Erosi serviks utera harus di
bedakan dari keganasan, sifilis, atau penyakit menular seksual. Oleh karena itu
bila dijumpai erosi serviks, perlu dilakukan pemeriksaan swab vagina (untuk
pemeriksaan mikrobiologi), atau bila dicurigai keganasan bisa dilakukan Pap’s
smear atau biopsi.
Ada beberapa teori penyebab
hal ini.
- Kadar hormon estrogen yang tinggi dalam darah, yang menyebabkan perubahan pertumbuhan sel-sel epitel. Sel-sel kolumnar tumbuh mendesak sel epitel gepeng. Teori ini mendasarkan banyaknya kasus pada: wanita hamil, pengguna pil KB, wanita dengan terapi pengganti hormon, dan bayi.
- Infeksi. Masih banyak perdebatan apakah erosi disebabkan atau, menyebabkan iritasi. Tapi yang jelas sering sekali kedua hal ini muncul bersamaan. Infeksi dapat beraneka ragam, jamur, bakteri, parasit, dan tentu saja virus.
- Iritasi kronik. Banyak penyebab yang dapat mengiritasi daerah tersebut misalnya penggunaan cairan pembersih yang tidak tepat, gel kontrasepsi anti sperma, dan tentu saja hubungan seksual (apalagi bila menggunakan sesuatu yang tidak sehat misalnya kondom yang tidak licin, atau alat bantu lainnya).
Terapi:
Bila dijumpai tanpa gejala,
biasanya tidak ada terapi khusus. Namun biasanya gejala penyerta seperti
keluhan di atas dan infeksi selalu menyertai. Tujuan terapi adalah
menghancurkan sel-sel kolumnar sehingga sel epitel gepeng dapat tumbuh di
tempatnya.
- Electrocauter : ‘pembakaran’ daerah erosi dengan elektrik
- Cryotcautery : penghancuran sel-sel epitel menggunakan suhu ekstrim dingin yang dihasilkan oleh gas N2O
- BIla terdapat infeksi, harus di eliminasi dengan obat antibiotik/antijamur/antiparasit
- Abstinensia (puasa senggama) minimal 6 minggu setelah tindakan di atas.
Sekian informasi mengenai penyakit Ginekologi, untuk lebih jelas dan
apabila ada pertanyaan yang ingin disampaikan silahkan klik kolom “konsultasi
Dokter Online” di bawah ini. Terima kasih.
article from: ginekologihospital
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar